SEARCH :
     
                Advanced Search













Fisik dan Lingkungan Alam

Lahan Basah Umum

Lahan basah didefinisikan sebagai daerah payau, gambut dan perairan alami maupun buatan, tetap maupun sementara dengan perairannya yang mengalir atau tergenang, tawar, agak asin maupun asin dan termasuk di dalamnya wilayah laut yang kedalamannya kurang dari 6 m pada waktu air surut paling rendah. Ekosistem lahan basah perlu dilesatarikan karena merupakan lingkungan / ekosistem paling produktif di dunia serta merupakan habitat bagi kehiidupan berbagai keanekaragaman hayati (flora dan fauna) termasuk sebagai penyedia air bersih dan gudang plasma nuftah.

Berbagai fungsi dan manfaat penting lainnya ekosistem lahan basah antara lain sebagai penyedia air bersih (daerah tangkapan air), pelindung banjir dan badai, penyeimbang daerah pantai dan pelindung erosi, penyaring dan penjernih air dari sedimentasi, nutrien dan pencemar, penyeimbang kondisi iklim local antara lain curah hujan dan suhu udara, sumber makanan dan pendapatan (perikanan, produksi kayu dan hasil hutan non kayu, dan pertanian), lokasi pendidikan dan penelitian, sumber energi serta penunjang transportasi dan parawisata.

Lahan basah dapat dibedakan berdasarkan tipenya yaitu lahan basah laut dan pesisir, lahan basah daratan dan lahan basah buatan manusia. Secara umum lahan basah dapat diklasifikasikan sebagai rawa hutan mangrove, estuaria, padang lamun, rumput laut, terumbu karang, danau, sungai, sawah dan tambak (ikan dan garam).

Rawa

Rawa merupakan sebutan untuk semua daerah yang tergenang air, yang penggenangannya dapat bersifat musiman ataupun permanen dan ditumbuhi oleh tumbuhan (vegetasi). Hutan rawa memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya. Jenis-jenis floranya antara lain: durian burung (Durio carinatus), ramin (Gonystylus sp), terentang (Camnosperma sp.), kayu putih (Melaleuca sp), sagu (Metroxylon sp), rotan, pandan, palem-paleman dan berbagai jenis liana. Faunanya antara lain : harimau (Panthera tigris), Orang utan (Pongo pygmaeus), rusa (Cervus unicolor), buaya (Crocodylus porosus), babi hutan (Sus scrofa), badak, gajah, musang air dan berbagai jenis ikan. Indonesia memiliki lebih dari 23 juta ha rawa.

Jenis-jenis rawa mencakup hutan rawa air tawar, memiliki permukaan tanah yang kaya akan mineral, biasanya ditumbuhi hutan lebat. Hutan rawa gambut, terbentuk dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan yang proses penguraiannya sangat lambat sehingga tanah gambut memiliki kandungan organic yang sangat tinggi. Rawa tanpa hutan, merupakan bagian dari ekosistem rawa hutan, namun hanya ditumbuhi tumbuhan kecil seperti semak dan rumput liar.

Manfaat hutan rawa sebagai sumber cadangan air, dapat menyerap dan menyimpan kelebihan air dari daerah sekitarnya dan akan mengeluarkan cadangan air tersebut pada saat daerah sekitarnya kering, mencegah terjadinya banjir, mencegah intrusi air laut ke dalam airtanah dan sungai, sumber energi, sumber makanan nabati maupun hewani.

Jika hutan rawa hilang maka dapat mengakibatkan kekeringan, terjadinya intrusi air laut yang masuk jauh ke daratan, terjadi banjir, hilangnya flora dan fauna yang hidupnya di rawa, berkurangnya sumber mata pencaharian penduduk sekitar.

Hutan Mangrove

Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis dan sub tropis, yang didominasi oleh beberapa spesies pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur. Komunitas vegetasi ini umumnya tumbuh pada daerah intertidal dan supratidal yang cukup mendapat aliran air, dan terlindung dari gelombang besar dan arus pasang-surut yang kuat. Oleh karena itu, hutan mangrove banyak ditemukan di pantai-pantai teluk dangkal, estuaria, delta, dan daerah pantai yang terlindung.







Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas (pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan anaerob. Zonasi hutan mangrove adalah :
  • Daerah yang paling dekat dengan laut sering ditumbuhi Avicennia dan Sonneratia. Sonneratia biasa tumbuh pada lumpur dalam yang kaya bahan organic

  • Lebih kearah darat, hutan mangrove umumnya didominasi oleh Rhozophora spp. Di zona ini juga dijumpai Bruguiera dan Xylocarpus.

  • Zona berikutnya didominasi oleh Bruguiera spp, selanjutnya terdapat zona transisi antara hutan mangrove dan hutan dataran rendah yang biasa ditumbuhi oleh nipah (nypa fruticans) dan pandan laut (pandanus spp).







Fungsi ekologis hutan mangrove :

  • Sebagai peredam gelombang dan angin badai, pelindung pantai dari abrasi, penahan Lumpur dan perangkap sediment yang diangkut oleh aliran permukaan

  • Hutan mangrove dimanfaatkan terutama sebagai penghasil kayu untuk bahan konstruksi, kayu baker, bahan baku untuk membuat arang, dan juga untuk dibuat bubur kertas (pulp). Disamping itu juga hutan mangrove dimanfaatkan sebagai pemasok larva ikan dan udang alam.

  • Sebagai daerah asuhan (nursery ground), daerah pencarian makanan (feeding ground) dan daerah pemijahan (spawning ground) bermacam biota perairan seperti ikan udang, dan kerang-kerangan, baik yang hidup di perairan pantai atau perairan lepas pantai.

  • Hutan mangrove juga merupakan habitat bagi beberapa satwa liar yang diantaranya terancam punah, seperti harimau sumatera (Panthera tigris sumatranensis), bekantan (Nasalis larvatus), wilwo (Mycteria cinerea), bubut hitam (Centropus nigrorufus), dan bangau tongtong (Leptoptilus javanicus, dan tempat persinggahan bagi burung-burung migran.




Estuari

Estuaria adalah wilayah pesisir semi tertutup yang mempunyai hubungan bebas dengan laut terbuka dn menerima masukan air tawar dari daratan. Sebagian besar estuaria didominasi oleh substrat berlumpur yang merupakan endapan yang dibawa oleh air tawar dan air laut. Contoh dari estuaria adalah muara sungai, teluk dan rawa pasang-surut.

Tipe Estuaria :
  • Estuaria Berstratifikasi Sempurna/Nyata atau Estuaria Baji Garam: dicirikan oleh adanya batas yang jelas antara air tawar dan air laut.

  • Estuaria Berstratifikasi sebagian/Parsial: paling umum dijumpai, air tawar dan dari sungai seimbang dengan air laut yang masuk melalui pasang.

  • Estuaria Campuran Sempurna atau Estuaria Homogen Vertikal: arus pasang surut dominan dan kuat, sehingga air estuaria tercampur sempurna dan tidak terdapat stratifikasi







Fungsi ekologis estuaria :

  • Sebagai sumber zat hara dan bahan organic yang diangkut lewat sirkulasi pasang surut.
  • Penyedia habitat bagi sejumlah spesies hewan yang bergantung pada estuaria sebagai tempat berlindung dan tempat mencari makanan

  • Sebagai tempat untuk berreproduksi dan/atau tumbuh besar terutama bagi sejumlah spesies ikan dan udang

  • Pemanfaatan wilayah estuaria sebagai tempat permukiman, penangkapan dan budidaya sumberdaya ikan, transportasi, dan pelabuhan maupun kawasan industri.




Padang lamun

Lamun (seagrass) merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang memiliki rhizome, daun dan akar sejati yang hidup terendam di dalam laut. Lamun mengkolonisasi suatu daerah melalui penyebaran buah (propagule) yang dihasilkan secara seksual (dioecious). Lamun umumnya membentuk padang lamun yang luas di dasar laut yang masih dapat dijangkau oleh sinar matahari yang memadai bagi pertumbuhannya. Lamun hidup di perairan yang dangkal dan jernih pada kedalaman berkisar antara 2 -12 meter, dengan sirkulasi air yang baik. Air yang bersirkulasi diperlukan untuk menghantarkan zat-zat hara dan oksigen, serta mengangkut hasil metabolism eke luar daerah padang lamun.

Di seluruh dunia diperkirakan terdapat sebanyak 55 jenis lamun, dimana di Indonesia ditemukan sekitar 12 jenis dominant yang termasuk ke dalam 2 famili, yaitu : Hydrocharitaceae, dan Potamogetonaceae.



Tabel 1. Spesies lamun di Indonesia



Fungsi ekologis padang lamun :
  • Produsen dentrius dan zat hara

  • Mengikat sediment dan menstabilkan substrat yang lunak, dengan system parakaran yang pada dan saling mengikat

  • Sebagai tempat berlindung, mencari makan, tumbuh besar, dan memijah bagi beberapa jenis biota laut, terutama yang melewati masa dewasanya di lingkungan ini.

  • Sebagai tudung pelindung yang melindungi penghuni padang lamun dari sengatan matahari.

  • Wilayah padang lamun dimanfaatkan oleh manusia sebagai tempat kegiatan budidaya laut berbagai jenis ikan, kerang-kerangan dan tiram, dan tempat rekereasi atau pariwisata.








Terumbu karang

Pada dasarnya terumbu terbentuk dari endapan-endapan masif kalsium karbonat (CaCO3), yang dihasilkan oleh organisme karang pembentuk terumbu (karang hermatipik) dari filum Cnidaria, ordo Scleractinia yang hidup bersimbiosis dengan zooxantellae, dan sedikit tambahan dari algae berkapur serta organisme lain yang menyekresi kalsium karbonat. Karang pembentuk terumbu (karang hermatipik) hidup berkoloni, dan tiap individu karang yang disebut polip menempati mangkuk kecil yang dinamakan koralit. Tiap mangkuk koralit mempunyai beberapa septa yang tajam dan berbentuk daun yang tumbuh keluar dari dasar koralit, dimana septa ini merupakan dasar penentuan spesies karang. Tiap polip adalah hewan berkulit ganda, dimana kulit luar yang dinamakan epidermis dipisahkan oleh lapisan jaringan mati (mesoglea) dari kulit dalamnya yang disebut gastrodermis. Dalam gastrodermis terdapat tumbuhan renik bersel tunggal yang dinamakan zooxantellae yang hidup bersimbiosis dengan polip. Zooxantellae dapat menghasilkan bahan organik melalui proses fotosintesis, yang kemudian disekresikan sebagian ke dalam usus polip sebagai pangan.







Faktor-faktor pembatas perkembangan karang :
  • Suhu air > 18° C, tapi bagi perkembangan optimal diperlukan suhu rata-rata tahunan berkisar antara 23° - 25°C, dengan suhu maksimal yang masih dapat ditolerir berkisar antara 3°- 40oC.

  • Kedalaman perairan < 50 m, dengan kedalaman bagi perkembangan optimal pada 25 m atau kurang.

  • Salinitas air yang konstan berkisar antara 30 - 36 o/oo.

  • Perairan yang cerah, bergelombang besar dan bebas dari sedimen.




Komposisi biota terumbu karang :
  • Beraneka ragam avertebrata (hewan tak bertulang belakang) : terutama karang batu (stony coral), juga berbagai krustasea, siput dan kerang-kerangan, ekinodermata (bulu babi, anemon laut, teripang, bintang laut dan leli laut).

  • Beraneka ragam ikan : 50-70% ikan karnivora oportunistik, 15% ikan herbivora dan sisanya omnivora.

  • Reptil : umumnya ular laut dan penyu laut.

  • Ganggang dan rumput laut: algae koralin, algae hijau berkapur dan lamun. s






Fungsi ekologis trumbu karang :
  • pelindung pantai dari hempasan ombak dan arus kuat yang berasal dari laut.

  • sebagai habitat, tempat mencari makanan, tempat asuhan dan pembesaran, tempat pemijahan bagi berbagai biota yang hidup di terumbu karang atau sekitarnya.

  • Sebagai tempat penangkapan berbagai jenis biota laut konsumsi, dan berbagai jenis ikan hias.

  • Bahan konstruksi bangunan dan pembuatan kapur.

  • Bahan perhiasan.

  • Bahan baku farmasi.

Danau

Danau adalah cekungan besar di permukaan bumi yang digenangi oleh air tawar ataupun asin yang seluruh cekungan tersebut dikelilingi oleh daratan. Akumulasi air di suatu danau dapat terjadi karena mencairnya gletser, aliran sungai, atau karena adanya mata air. Biasanya danau dapat dipakai sebagai sarana rekreasi, dan olahraga. Kebanyakan danau adalah air tawar dan juga banyak berada di belahan bumi utara pada ketinggian yang lebih atas.

Sebuah danau periglasial adalah danau yang di salah satunya terbentuk lapisan es, "ice cap" atau gletser, es ini menutupi aliran air keluar danau. Istilah danau juga digunakan untuk menggambarkan fenomena seperti Danau Eyre, di mana danau ini kering di banyak waktu dan hanya terisi pada saat musim hujan. Banyak danau adalah buatan dan sengaja dibangun untuk penyediaan tenaga listrik-hidro, rekreasi (berenang, selancar angin, dll), persediaan air, dll.

Berdasarkan proses terjadinya, danau dibedakan :
  • danau tektonik yaitu danau yang terbentuk akibat penurunan muka bumi karena pergeseran / patahan

  • yaitu danau yang terbentuk akibat aktivitas vulkanisme / gunung berapi danau vulkanik

  • danau tektovulkanik yaitu danau yang terbentuk akibat percampuran aktivitas tektonisme dan vulkanisme

  • danau bendungan alami yaitu danau yang terbentuk akibat lembah sungai terbendung oleh aliran lava saat erupsi terjadi

  • danau karst yaitu danau yang terbentuk akibat pelarutan tanah kapur

  • danau glasial yaitu danau yang terbentuk akibat mencairnya es / keringnya daerah es yang kemudian terisi air

  • danau buatan yaitu danau yang terbentuk akibat aktivitas manusia >
Sungai

Sungai dapat diartikan sebagai cekungan di permukaan bumi yang berbentuk memanjang dan terisi oleh air mengalir ke tempat yang lebih rendah dan bermuara ke laut. Sungai berubah dari waktu ke waktu. siklus kehidupan sungai dimulai ketika tanah baru muncul di atas permukaan laut. Hujan kemudian mengikisnya dan membuat parit, kemudian parit-parit itu bertemu sesamanya dan membentuk sungai. Danau menampung air pada daerah yang cekung, tapi kemudian hilang sebagai sebagai sungai dangkal. Kemudian memperdalam salurannya dan mengiris ke dasarnya membentuk sisi yang curam, lembah bentuk V. Anak-anak sungai kemudian tumbuh dari sungai utamanya seperti cabang tumbuh dari pohon. Semakin tuan sungai, lembahnya semakin dlam dan anak-anak sungainya semakin panjang.




Sungai

Sawah adalah usaha pertanian yang secara fisik permukaan tanahnya rata, dibatasi oleh pematang, dapat ditanami padi dan palawija atau tanaman pangan lainnya. Untuk mengairi sawah digunakan sistem irigasi,misalnya sawah yang bertingkat-tingkat, atau melalui saluran pengairan (irigasi) yang diatur sedemikan rupa hingga setiap petak sawah dapat memperoleh air.

Tambak

Sebuah tambak udang adalah sebuah bisnis "aquaculture" dirancang untuk meningkatkan dan memproduksi udang laut atau prawn untuk konsumsi manusia. Pertambakan udang komersial dimulai pada 1970-an, dan produksi tumbuh dengan cepat, terutama untuk memenuhi pertumbuhan permintaan Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa barat. Produksi global total dari udang tambak mencapai lebih dari 1,6 juta ton pada 2003, mewakili hampir 9 milyar dolar AS. Sekitar 75% udang tambak diproduksi di Asia, terutama di China dan Thailand. 25% sisanya diproduksi di Amerika Latin, di mana Brazil merupakan produsen terbesarnya. Negara pengekspor terbesar adalah Thailand.

Pertambakan udang telah berubah dari bisnis tradisional, skala-kecil di Asia Tenggara menjadi sebuah bisnis global. Kemajuan teknologi telah mendorong pertumbuhan udang dengan kepadatan yang lebih tinggi, dan broodstock dikapalkan ke seluruh dunia. Hampir seluruh udang yang dikembangkan adalah penaeid (yaitu, udang dari famili Penaeidae) dan hanya dua spesies udang -- Pacific White Shrimp dan Giant Tiger Prawn; hampir mencakup 80% dari seluruh udang yang dikembangkan. Industri monokultur ini sangat mudah terserang penyakit, yang menyebabkan beberapa pemusnahan dari populasi pertambakan udang. Peningkatan masalah ekologi, terjadinya penyebaran penyakit berkali-kali, dan tekanan dan kritikan dari NGO dan negara konsumen mengubah industri ini pada akhir 1990-an dan biasanya pengaturan yang lebih ketat dari pemerintah. Pada 1999, sebuah program yang ditujukan pada pengembangan dan promosi praktek pertambakan yang lebih terjamin dilaksanakan, termasuk badan pemerintah, wakil industri, dan organsiasi lingkungan.

Kembali