SEARCH :
     
                Advanced Search













Fisik dan Lingkungan Alam

Geologi Regional Indonesia

Lapisan luar atau kerak bumi kita ini dipercaya mengambang di atas suatu cairan pekat dan sangat panas yang disebut mantel. Adanya suatu arus konveksi dari mantel, maka kerak bumi yang mengambang itu dapat bergerak secara horizontal maupun vertikal. Kerak bumi terbagi dalam beberapa bagian yang disebut lempeng. Tentu saja karena gerakan tadi, lempeng-lempeng tersebut dapat saling menjauhi tetapi juga dapat saling mendekati, bahkan bertabrakan. Sebagai contoh lempeng yang saling menjauhi yang dapat disaksikan sampai sekarang adalah antara Benua Afrika dan Amerika Selatan. Pantai timur Amerika Selatan bila digunting akan dapat ditempelkan dengan baik pada pantai barat Afrika. Sedangkan lempeng yang saling mendekati kemudian bertabrakan adalah antara tepi utara Lempeng Hindia-Autralia dengan tepi selatan Lempeng Eurasia, yang bertabrakan di barat P. Sumatra, selatan P. Jawa menyambung terus ke selatan Nusa Tenggara.
      Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan pertemuan tiga lempeng yang aktif saling bertumbukan. Di bagian timur, Lempeng Samudra Filipina yang merupakan bagian dari Lempeng Pasifik bergerak kearah baratlaut dengan kecepatan sekitar 8–10,2cm/th, di bagian selatan Lempeng Hindia-Australia bergerak ke utara dengan kecepatan sekitar 7cm/th dan di bagian baratlaut, Kraton Sunda (sering juga disebut Paparan Sunda) yang merupakan bagian dari Lempeng Benua Eurasia yang relatif lebih stabil dengan gerakan hanya berkisar 0,4 cm/th (Minster & Jordan, 1978; Gambar 1). Karena adanya gerakan ke tiga lempeng itu, secara geologi wilayah NKRI menjadi wilayah yang sangat rumit sekaligus menarik untuk dipelajari. Kerumitan geologi ini dapat diamati dari adanya berbagai fenomena geologi seperti struktur geologi yang masih aktif bergerak maupun tidak aktif, percampuran berbagai jenis batuan dan bentukan topografi (Gambar 1 & 2).



Gambar 1 : Posisi Indonesia dalam Pertemuan Lempeng Benua Eurasia, Lempeng Samudra Pasifik dan Lempeng Hindia-Australia (Sumber Minster dan Jordan, 1978;Simandjuntak & Barber, 1996)





Gambar 2 : Citra Satelit yang Menggambarkan Kompleksitas Geologi Wilayah Indonesia Akibat Tumbukan Lempeng Benua Eurasia, Lempeng Samudera Pasifik dan Lempeng Hindia-Australia.


      Akibat tumbukan itu juga menyebabkan munculya berbagai sumber daya geologi, yang bersifat positif dalam pengertian dapat dimanfaatkan sebagai pendukung kehidupan umat manusia maupun negatif yang menjadi ancaman bagi kehidupan. Sebagai contoh sumber daya geologi positif adalah munculnya berbagai bahan tambang (seperti migas, batubara, logam dan non-logam), sedangkan sumber daya negatif adalah adanya ancaman bahaya dari gunung api, gempa bumi, tsunami dan gerakan tanah.



LITOLOGI DAN STRATIGRAFI

      Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa wilayah NKRI merupakan daerah pertemuan tiga lempeng. Lempeng Pasifik merupakan lempeng alas samodra (umumnya disebut lempeng samodra), Lempeng Hidia-Australia merupakan gabungan antara Lempeng Samodra Hindia di bagian barat dan Lempeng Benua Australia di bagian timur (Gambar 1). Sedangkan Lempeng Eurasia sepenuhnya merupakan lempeng benua. Perbedaan jenis lempeng dan proses tumbukan ini mempengaruhi ragam dan jenis batuan serta kenampakan morfologi di wilayah ini.
      Pada umumnya, batuan yang berasal dari lempeng samodra mempunyai berat jenis lebih besar dibandingkan dengan batuan yang berasal dari lempeng benua. Hal ini menyebabkan, apabila kedua jenis lempeng yang berbeda itu bertabrakan, biasanya lempeng samodra akan menunjam di bawah lempeng benua.
      Batuan yang membentuk Kepuluan Indonesia dapat dibagi berdasarkan umurnya batuan tersebut, dengan urutan dari tua ke muda menjadi Batuan Paleozoikum (terbentuk antara 542 dan 251 juta tahun lalu), Batuan Mesozoikum (terbentuk antara 251 dan 65,5 juta tahun lalu), Batuan Tersier (terbentuk antara 65,5 dan 1,8 juta tahun lalu), dan Batuan Kuarter (terbentuk setelah 2,95 juta tahun lalu sampai sekarang).
      Batuan yang berumur lebih muda pada umumnya mempunyai penyebaran lebih luas dan lebih banyak vareasi batuannya dibandingkan batuan yang umurnya lebih tua.

Batuan Paleozoikum

      Batuan berumur Paleozoikum tersebar secara setempat dan tidak merata dijumpai di beberapa bagian di wilayah Indonesia (Gambar 3). Di Indonesia bagian timur, dijumpai batuan berumur Paleozoikum yang berasal dari Benua Australia, sedangkan Indonesia barat merupakan tepian Lempeng Benua Eurasia yang terkenal dengan nama Daratan Sunda (Sunda Land).       Batuan tua di Indonesia Timur tersebut merupakan tepi utara Benua Australia dan sebagian berupa kepingan benua (benua renik) tersebar di Indonesia bagian timur, seperti di bagian timur Sulawesi, Kepulauan Banggai dan Sula, Misool dan beberapa pulau lainnya di Maluku.       Batuan Paleozoikum terdapat di Indonesia Timur dijumpai di Pulau Timor dan Papua (Gambar 3). Di Timor, batuan berumur Perm (299 – 251 juta tahun lalu) berupa batuan sedimen dan basalt. Di Papua, batuan Paleozoikum dapat dipisahkan menjadi batuan Silur (443,7 – 416 juta tahun lalu), Devon (416 – 359,2 juta tahun lalu), Karbon (359,2 – 299 juta tahun lalu) dan Perm. Batuan Paleozoikum di Papua ini terdiri atas batuan sedimen, batuan gunung api dan batuan malihan berderajad rendah.

Batuan Mesozoikum

      Batuan yang berumur Mesozoikum tersingkap hampir merata di pulau-pulau besar (Gambar 3) baik di Indonesia bagian Timur maupun bagian Barat. Batuan ini dapat dikelompokan lebih rinci berdasarkan umur mereka, yakni batuan berumur Trias (251 – 199,6 juta tahun lalu), Jura (199,6 – 145,5 juta tahun lalu) dan batuan berumur Kapur (145,5 – 65,5 juta tahun lalu).
      Di Indonesia Timur, batuan ini umumnya berasal dari Benua Australian atau Lempeng Pasifik, sedangkan yang tersingkap di Indonesia bagian Barat merupakan bagian dari Dataran Sunda (bagian dari Lempeng Asia Tenggara). Di Indonesia bagian Barat, batuan Mesozoikum terdapat di Sumatra, Kalimantan dan Jawa (Gambar 3).



Gambar 3 : Lokasi Batuan Paleozoikum dan Batuan Mesozoikum di Indonesia (Sumber Simandjuntak & Barber, 1996).


      Batugamping berumur Trias tersingkap di Sumatra, dan banyak singkapan granit berumur sama tersingkap di Kalimantan. Singkapan dari runtunan batuan sedimen lainnya yang berumur Trias dapat ditemukan di kedua pulau tersebut. Batuan sedimen klastik berumur Jura, yang menumpang di atas batuan Trias, ditemukan di banyak tempat di Sumatra dan Kalimantan. Sedangkan batuan berumur Kapur, umumnya berupa batuan bersifat gampingan yang terendapkan di laut dalam, ditemukan di Sumatra, Kalimantan dan Jawa.
      Di Indonesia timur, batuan Mesozoikum ditemukan di Sulawesi, di beberapa pulau di Maluku, di Timor dan di Papua. Di wilayah Indonesia timur, batuan Mesozoikum berasal dari lempeng benua yang merupakan kepingan benua dari Benua Australia dan lempeng samodra (Pasifik).
      Batuan Mesozoikum, yang berasal dari lempeng benua ini dapat ditemukan di Sulawesi bagian timur, Buton, Banggai-Sula, Buru, Seram, Timor, Halmahera, Misool dan Papua, umumnya merupakan runtunan sedimen yang berumur Trias, Jura dan Kapur. Batuan Trias dan Jura umumnya berupa klastik halus-kasar sedangkan batuan Kapur berupa batugamping yang terendapkan di laut dalam.
      Pada sebagian kecil kepingan benua tersebut dijumpai pula batuan malihan berderajad rendah, granit dan batuan yang berasal dari kegiatan gunung api. Di Indonesia Timur, sebagian dari batuan sedimen berumur Mesozoikum ini dikenal sebagai batuan induk minyak dan gas bumi, yang kemudian terperangkap pada batuan Tersier atau yang lebih muda. Batuan dari lempeng samodra (Pasifik) berumur tidak lebih tua dari Kapur. Di Sulawesi bagian timur, batuan ini berupa batuan beku dengan komposisi basa sampai ultrabasa. Hasil pelapukan dari batuan terkhir ini terkenal sebagai penghasil nikel yang potensial, seperti di Pulau-pulau Sulawesi, Halmahera dan Gak di Maluku.

Batuan Tersier

      Batuan berumur Tersier dapat dijumpai di hampir setiap pulau di Indonesia. Jenis dan ragam batuannya sangat bervariasi, mulai dari batuan sedimen klastik, karbonat, batuan beku sampai batuan gunung api. Pada umumnya batuan Tersier ini menumpang di atas batuan yang lebih tua secara tidak selaras.



Gambar 4 : Cekungan Sedimen di Indonesia yang Berpotensi Mengandung Minyak dan Gas Bumi.


      Sebagian besar minyak dan gas bumi di Indonesia diturap cekungan sedimen dari batuan ini (Gambar 4). Sebagian dari cekungan batuan sedimen yang diduga berpotensi mengandung minyak dan gas bumi masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Batuan Kuarter

      Batuan berumur Kuarter (lebih muda dari 1,81 juta tahun lalu) tersebar di seluruh Kepulaluan Nusantara. Batuan ini umumnya masih lepas belum terkompakkan, sehingga masih lunak. Jenis batuannya terdiri atas batuan sedimen, yang berukuran halus sampai sangat kasar, dan batuan hasil kegiatan gunung api.
      Batuan sedimen umumnya hasil pengendapan di lingkungan sungai, danau, pantai dan laut. Sedangkan batuan gunung api umumnya tersebar di sekeliling gunung api aktif. 129 gunung api aktif yang ada di Indonesia menghasilkan batuan gunung api yang tersebar luas di sekelilingnya.

Kembali