SEARCH :
     
                Advanced Search













Fisik dan Lingkungan Alam

Curah Hujan Indonesia

      Indonesia merupakan daerah tropis yang terletak pada 6o LU – 11o LS dan 95o – 141o BT, dan iklimnya banyak dipengaruhi oleh sirkulasi atmosfer skala lokal, regional, dan global. Hal ini disebabkan karena Indonesia merupakan Negara benua maritime, yang terdiri dari ribuan pulau besar dan kecil serta tersebar di sepanjang garis khatulistiwa. Diantara pulau satu dengan pulau lainnya dipisahkan oleh selat atau samudera, selain itu pulau-pulau di Indonesia memiliki deretan pegunungan yang sangat berpengaruh terhadap kondisi cuaca. Sistem cuaca di daerah tropis banyak dipengaruhi oleh gerakan udara vertikal dan divergensi angin yang menimbulkan gangguan tropis berupa badai guntur atau siklon tropis.

      Posisi wilayah Indonesia yang terletak antara benua Asia dan Australia, serta antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, mengakibatkan terjadinya sirkulasi sistem monsoon yang dicirikan dengan terbentuknya hutan tropika basah di sebagian besar wilayah Indonesia dan ekosistem sabana terutama di wilayah Nusa Tenggara. Secara umum, Indonesia mengalami musim hujan pada periode Oktober – Maret dan musim kemarau pada periode April - September, dengan masa transisi menjelang awal atau akhir periode tersebut.

      Boerema, J (1922), mengemukakan bahwa pola hujan bulanan di Indonesia umumnya dibagi menjadi tiga tipe yaitu :
  • Tipe Ekuatorial, umumnya memiliki pola hujan rata-rata bulanan dengan dua puncak hujan maksimum yaitu pada Maret dan November. Rata-rata hujan setiap bulan cukup tinggi, yaitu lebih dari 150 milimeter dan sebaran wilayahnya umumnya berada di sekitar ekuator. Puncak hujan biasanya terjadi pada saat posisi matahari berada di atas suatu wilayah tersebut yang merupakan wilayah Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ).

  • Tipe Monsun, umumnya memiliki pola hujan rata-rata bulanan dengan satu puncak hujan maksimum yaitu pada Januari atau Desember. Rata-rata hujan setiap bulan menunjukkan perbedaan yang jelas antara periode musim kemarau dengan curah hujan kurang dari 150 milimeter dan periode musim hujan dengan curah hujan lebih dari 150 milimeter. Sebaran wilayahnya umumnya berada di selatan ekuator yang sensitif terhadap gerakan atau perubahan sistem angin monsun. Puncak hujan biasanya terjadi pada saat sistem monsun barat dominan melintasi wilayah tersebut.

  • Tipe Lokal, umumnya memiliki pola hujan rata-rata bulanan yang kebalikan dengan tipe monsun. Pada saat wilayah tipe monsun mengalami musim hujan, maka wilayah tipe lokal mengalami musim kemarau, demikian juga sebaliknya. Selain itu, akibat dari kondisi geografisnya terdapat pula wilayah tipe lokal yang memiliki curah hujan cukup rendah sepanjang tahun dengan rata-rata bulanan kurang dari 150 milimeter.
                  Ditinjau dari proses terjadinya hujan, suatu masa udara harus mempunyai cukup uap air dan naik pada ketinggian yang memungkinkan untuk terjadinya kondensasi. Suatu masa udara dapat naik apabila terjadi pemanasan oleh permukaan yang panas (proses terjadinya hujan konvektif), pertemuan dua masa udara yang berlawanan (proses terjadinya hujan frontal) dan bila masa udara dipaksa naik karena adanya pegunungan (proses terjadinya hujan orografi). Jika masa udara tidak stabil akan menginduksi panas atau arus konveksi membentuk hujan mendadak atau awan badai, jika stabil akan membentuk awan tipis yang lebih luas jenis stratus dan hujan gerimis. (Winarso dan McBride, 2002). Menurut Sandy (1987), hujan baik jatuh maupun jumlahnya adalah hasil akhir dari perpaduan beberapa faktor, yaitu kelembaban udara, topografi, arah dan kecepatan angin serta arah hadapan lereng, sehingga curah hujan baik jumlah maupun waktu datangnya di setiap tempat tidak akan sama.

Klasifikasi Iklim

      Berdasarkan klasifikasi iklim global, wilayah kepulauan Indonesia sebagian besar tergolong dalam zona iklim tropika basah dan sebagian kecil masuk zona iklim pegunungan atau tropika monsun. Variasi suhu udara tergantung pada ketinggian tempat (altitude), sedangkan fluktuasi suhu musiman tidak terjadi (minimal). Keberadaan lautan di sekitar kepulauan Indonesia ikut memperkecil gejolak suhu udara yang mungkin timbul.

      Zona iklim pegunungan berada pada ketinggian tempat > 1000 meter dari permukaan laut. Dengan demikian suhu rata-rata pada zona iklim pegunungan dapat lebih rendah 6o C dibanding pada dataran rendah (penurunan suhu sekitar 0.6o C setiap 100 meter kenaikan ketinggian tempat). Zona iklim pegunungan di Indonesia meliputi wilayah pegunungan Bukit Barisan, daerah sekitar puncak (Jawa Barat), sekitar Wonosobo (Jawa Tengah), beberapa tempat di Jawa Timur, wilayah pegunungan Jaya Wijaya, serta pegunungan di bagian interior Pulau Kalimantan dan Sulawesi.

      Klasifikasi Iklim Berdasarkan Pertumbuhan Vegetasi yang ada di Indonesia adalah Sistem Klasifikasi Koppen, Sistem Klasifikasi Iklim Oldeman , dan Sistem Klasifikasi Iklim Schmidth-Ferguson.

Suhu Udara

      Sumber utama yang menimbulkan panasnya atmosfer adalah sinaran matahari. Apabila sinaran matahari mengenai suatu benda, maka sebagian sinaran dipantulkan, sebagian diteruskan, dan sebagian diserap.

      Setiap bagian atmosfer mempunyai suhu yang berbeda, demikian pula berbeda pada setiap saat. Perbedaan tersebut terjadi karena berbeda jumlah sinaran yang diterima dan karena berbagai faktor lainnya, yaitu kedudukan matahari, tinggi rendahnya tempat, struktur dan jenis permukaan. Dalam arah mendatar di dekat permukaan bumi ke arah kutub suhu makin berkurang. Daerah tropik mempunyai suhu rata-rata paling tinggi karena matahari terus-menerus diatas kawasan khatulistiwa sehingga kawasan tersebut banyak menerima sinaran. Karena bumi berputar pada porosnya dan beredar mengelilingi matahari maka suhu udara di dekat permukaan bumi mempunyai perubahan harian dan perubahan musiman. Di kawasan tropik perubahan harian sangat kelihatan dan menjadi ciri khas kawasan tersebut, sedangkan mendekati kutub perubahan musiman sangat terlihat. Hampir di semua tempat di kawasan tropik suhu udara mencapai maksimum sekitar atau beberapa waktu setelah matahari mencapai titik tertinggi (kulminasi) atau setelah pukul 12 waktu setempat. Di Indonesia umumnya maksimum tercapai sekitar pukul 13 waktu setempat.

      Dalam arah mendatar di dekat permukaan bumi suhu udara berkurang mengikut ketinggian tempat dan besarnya pengurangan bergantung kepada keadaan lingkungan. Oldeman (1982) mengemukakan bahwa di Indonesia pengurangan suhu mengikut ketinggian tempat tersebut secara umum mengikuti rumus :

Th = Tho - 0,5 h

      Dengan Th = suhu pada ketinggian h meter dari permukaan laut, dan Tho = suhu pada ketinggian ho.

      Dalam lapisan troposfer suhu berkurang mengikut ketinggian, dan pengurangan suhu mengikut arah vertical disebut laju susut suhu, dimana besarnya laju susut suhu rata-rata sekitar 6 oC/km. Pada keadaan tertentu dalam suatu lapisan tipis suhunya dapat bertambah mengikut ketinggian, dan lapisan yang bersuhu demikian disebut lapisan sungsangan. Lapisan sungsangan ada yang terjadi sementara, dan ada yang bersifat tetap. Tropopause adalah salah satu dari lapisan sungsangan yang tetap. Lapisan sungsangan sering terdapat dalam udara di dekat permukaan tanah pada pagi hari, terjadi karena pada malam hari sebelumnya tanah banyak memancarkan panasnya ke atmosfer sehingga suhunya turun sampai lebih rendah dari suhu udara di atasnya.

      Satuan pengukuran suhu udara digunakan derajat. Ada tiga satuan derajat yang lazim digunakan dalam meteorologi, yakni derajat Celcius (oC) , derajat Fahrenheit (oF), dan derajat Kelvin (oK). Hubungan antara satuan-satuan tersebut sebagai berikut :


Kelembapan Udara

      Udara mengandung uap air yang banyaknya tidak tetap. Uap air berasal dari berbagai sumber, antara lain dari penguapan laut, penguapan sungai, penguapan danau, dan penguap-peluhan dari tumbuh-tumbuhan. Untuk menyatakan kadar uap air di dalam udara digunakan istilah kelembapan. Banyaknya uap air di dalam udara bergantung kepada banyak faktor, antara lain ketersediaan air dan sumber uap, suhu, tekanan udara, angin. Udara yang suhunya tinggi mempunyai kemampuan menyimpan uap air lebih banyak dibandingkan udara yang suhunya lebih rendah, karena di dalam udara yang suhunya rendah uap air mudah mengembun kembali menjadi air.

      Dalam kajian sifat udara untuk keperluan tertentu, udara dibedakan dari kandungan uap air di dalamnya dan dikenal istilah udara basah dan udara kering. Udara basah digunakan untuk menyatakan udara yang mengandung uap air, dan udara kering bagi udara yang tidak mengandung uap air. Jadi udara basah adalah campuran udara kering dan uap air. Baik udara kering maupun uap air keduanya berbentuk gas yang mempunyai tekanan. Tekanan atmosfer atau yang lazim disebutkan tekanan udara, adalah jumlah tekanan dari udara kering dan tekanan uap air yang ada di dalam atmosfer saat itu. Jika tekanan udara kering secara terpisah besarnya pd, dan tekanan uap air pada saat itu e, maka tekanan udara pada saat itu : p = pd + e.

      Udara yang suhunya tinggi mempunyai kemampuan menyimpan uap air lebih banyak dibandingkan dengan udara yang suhunya lebih rendah. Oleh karena itu apabila ke dalam udara yang suhu dan tekanannya tetap dimasukkan uap air sebanyak-banyaknya, pada suatu saat uap air yang ada dalam udara tidak lagi bertambah karena sebagian ada yang mengembun kembali menjadi air. Dalam keadaan seperti itu udara disebut jenuh dengan uap air. Tekanan uap air pada saat jenuh tersebut mencapai maksimum. Jadi makin tinggi suhunya makin tinggi tekanan uap air maksimum yang dapat dicapai.

      Ada tiga macam ukuran yang digunakan untuk menyatakan nilai kelembapan udara, yakni kelembapan nisbi, kelembapan mutlak atau nisbah campur, dan kelembapan spesifik. Kelembapan nisbi adalah nilai perbandingan antara tekanan uap air yang ada pada saat pengukuran dan besarnya tekanan uap air maksimum yang dapat dicapai pada suhu dan tekanan udara pada saat itu. Apabila tekanan uap air pada saat itu sebesar e milibar, dan tekanan uap maksimum em milibar maka kelembapan nisbi:

      Lempeng bergerak satu sama lain dan juga menembus ke arah konveksi mantel. Bagian alas litosfir melengser di atas zona lemah bagian atas mantel, yang disebut juga astenosfir. Bagian lemah astenosfir terjadi pada saat atau dekat suhu dimana mulai terjadi pelelehan, kosekuensinya beberapa bagian astenosfir melebur, walaupun sebagian besar masih padat. Kerak benua mempunyai tebal lk. 35 km, berdensiti rendah dan berumur 1 2 miliar tahun, sedangkan kerak samudera lebih tipis (lk. 7 km), lebih padat dan berumur tidak lebih dari 200 juta tahun. Kerak benua posisinya lebih di atas dari pada kerak samudera karena perbedaan berat jenis, dan keduanya mengapung di atas astenosfir.

H = e/em x 100 %

       Kelembapan mutlak atau nisbah campur adalah perbandingan antara massa uap air dan massa udara kering dalam tiap satuan volume udara. Misalkan dalam 1m3 udara terdapat mv uap air dan md udara kering, maka kelembapan mutlak atau nisbah campurnya sebesar :

r = mv / md

      Kelembapan spesifik adalah perbandingan antara massa uap air dan massa udara dalam tiap satuan volume udara. Misalkan dalam 1m3 udara mengandung mv gram uap air dan md gram udara kering maka berat udara sebesar (mv + md ) gram, dan kelembapan spesifik sebesar :

q = mv / (mv + md )


Kembali